Showing posts with label catatan thepo. Show all posts
Showing posts with label catatan thepo. Show all posts

Sunday, August 11, 2019

Sebatas rindu

Ketika kutanya bintang kenapa dia bersedih
Ternyata rembulan berkhianat padanya
Ketika kutanya rembulan kenapa dia bersedih
Katanya mega jahat padanya
Apakah salah awan ataukah mentari yang egois berpindah haluan
Mereka tak menjawab
Sudahlah

Ketika aku bertanya pada pohon kenapa dia bersedih
Jawabnya dia kehausan akan air mengalir
Mengapa air tak mengalir katanya awan tak mau mendekat lagi
Hanya sebatas memberi harapan palsu
Angin sepoi sepoi tidak membuatnya lega tapi semakin mencekam
Aku bertanya lagi pada air kenapa dia tak mengalirkan berkatnya
Dia bersenda gurau dan menyalahkan matahari yang terlalu panas
Apakah matahari adalah jahat
Aku tak tahu
Sudahlah

Kenapa pohon bersedih
Mengapa air tak lagi segar
Mengapa angin tak lagi lembut
Apakah itu hanya sebuah kisah penutup malam?

Mengapa bulan tak lagi cerah
Mengapa bintang semakin suram
Mengapa matahari semakin jahat
Apakah mereka berdusta pada mahkluk di jagad raya?

Akh sudahlah

Mereka tidak menyalahkan makhluk lainnya
Mereka tak mencari kesalahan
Hanya rindu kepada kehidupan sebelumnya
Tak tahu kapan akan kembali segar
Apakah reinkarnasi menjawab ataukah tinggal sebuah nama
Aku pun tak tahu
Ahh sudahlah

Wednesday, July 31, 2019

Simfoni pilu

Pernahkah kau melukis pelangi dikala awan sedang gelap dan gersang
Apakah kau mewarnainya dengan kuat seperti tuba dan pekat bagai tinta
Ataukah pelangi memudar karena warnanya disapu oleh hujan yang berlari menjauh ke ujung sana
Akhh biarlah itu menjadi rahasiaNya

Katanya bunga mekar karena penuh cinta dan kasih yang mesra
Biarkan dia berkembang mengikuti mentari dan layu kemudian
Tapi kenapa mereka membunuhnya dan memasukkan kedalam kubangan-kubangan jahat dan membuat sang kembang tak bisa bernafas lembut
Katanya mereka suka aroma semerbak tapi mengapa mereka memberi aroma palsu dan mematahkan harapan yang akan menjadi buah nantinya

Katanya danau itu indah di senja hari dikala sang mentari mendekat
Pijarkan lembayung yang selembut sutra dipenghujung waktu
Pantulkan warna temaram pelembut hati yang gundah gulana
Tapi lihatlah teliti
Banyak borok borok mewah didalamnya
Ada jejak nyata membuat warnanya menjadi gelap
Dikala sang manusia membawa sisa dirinya dan tak merasa berdosa
Mengalir ke ujung hutan dan menghancurkan semuanya
Bagaikan bom waktu yang perlahan mendekat dan sakit

Tuesday, January 29, 2019

Diam

Bilakah semua cerita terulang kembali
Seperti kemarin saat kau pergi dan datang lagi
Aku pikir kau membawa banyu pelepas dahagaku
Ternyata air mata yang kau janjikan padaku
Aku tak mengapa itu suaraku
Tapi bathinku tak pernah setuju aku diam
Seolah telingaku pun ikut tuli dan berpura pura
Akupun tak bersuara tak berirama
Dan aku hanya sekumpulan kata yang bermakna kotor dan membuatmu menjauh dan menjaga jarak
Aku tahu itu dan diam
Aku tahu semuanya akan seperti itu namun aku diam
Ikhlasku tak terbalaskan oleh ucapan aku juga diam
Tak berakal budi diriku disebutnya dan aku diam


Wednesday, February 14, 2018

Senja

Ditepian hati yang kini merapuh bersama perihnya raga tertusuk sembilu
Meninggalkan seribu luka yang kian menganga dan membusuk hancur
Seperti asa yang kian redup di tiup oleh bayu yang melintas
Semua tak lagi sama kini
Berjuta untaian kata yang terpadat rapi pun kini hancur berantakan  di hempas badai yang bergejolak
Tiada apapun yang tersisa olehnya
Hanyalah kelam dan gersangnya yang menemani semua kisahku yang enggan menepi
Aku tak bisa apa apa

Tuesday, January 16, 2018

Selamat pagi

Seumpama  malam yang beranjak ke ujung cahaya
Perlahan dingin nya pun menghindari cahaya nun jauh di ufuk timur
Bersama lantunan nada alam yang berkumandang merdu di jagad raya
Seirama bayu yang mengalunkan  lambaian ayat ayat cinta nya
Semuanya indah sediakala
Hanyalah sebuah cerita penghangat diri di awal kisah ini
Bersama untaian kata yang tertata rapi disana
Disapa oleh setiap nyawa yang terpisah oleh kerinduan semuanya berpadu di antara megahnya  duniawi

Sunday, December 10, 2017

Egois

Sekian lamanya waktu ku tunggu
Ku rela tak beranjak dari tempatku berada
Berpayungkan awan gelap berselimutkan debu beterbangan
Aku tak juga bergerak

Aku tak bisa pahami seperti apa jadinya ceritakan mimpi di tengah kemelut membelit
Tak mampu ku pejamkan mata walau sesaat lamanya
Sirna segala apa yang telah di antarkan oleh pemilik cinta
Hanya kesombongan belaka bertopengkan kepalsuan
Aku tak juga jera

Aku masih tetap disana
Disudut gelap menanti senja menjemputku
Sembari mulut ku berkomat kamit tak beraturan
Apakah makna yang telah kulakukan sepanjang jalan kenanganku
Aku pun tak tau apa yang terjadi
Semuanya seperti sungai yang mengalir

Monday, October 9, 2017

Sakit

Semalam kisah kita tidak berujung bahagia
Cerita yang kini menjadi sebuah dilema diantara dua dunia
Terpaut diantara bayang bayang yang semakin menyilaukan netra
Aku tak bisa apa apa lagi
Kini senja sudah mulai mendekat dan angin laut menyapaku
Menyelami kedalam relung hati yang semakin keropos
Aku sendirian berdiri disini
Perlahan sinar mentari semakin pudar
Hilang ditelan waktu yang bergelora untuk menerjang
Ketika asa pudar dan mulai hilang perlahan
Aku masih tetap disini sendiri
Kelam melindungi ku di balik dedaunan
Menatap mentari yang beranjak meninggalkan jejaknya
Air mata perlahan jatuh melintasi pipi
Jatuh ke bumi dan tak kembali lagi
Namun aku tetap disini

Hitam ku

Apa kabar hitam untuk dunia
Yang mengejek betapa sempurna nya dirinya
Yang menjatuhkan hukuman bagi setiap pecinta terang
Yang mampu meluluhlantakkan segala aral di hadapannya
Dia tak bergeming tak beranjak
Kepingan amarah kian merasuk dan menjelma menjadi bongkahan dendam
Yang akan meledak ketika kebaikan melingkupi
Hentakan kaki pun menggetarkan bumi
Sangkakala pun seakan tertawa dengan nyaringnya
Semuanya itu adalah lukisan nyata
Setiap mata akan memandang dan berkata
Aku hitam

Thursday, October 5, 2017

Andai

Ketika matahari tertutupi oleh awan putih
Kau melihat seolah dia gelap
Terselubung disembunyikan oleh sang bayu
Nun jauh diatas sana dia tetap membara dan silau
Ketika setiap raga Berselimutkan kepalsuan yang kau tak tau
Kau melihatnya seakan mereka adalah makhluk fana nan papa
Menengadah seakan mereka hamba dunia Bertelut dengan sang mentari yang membakarnya
Kau tetap melihat apapun yang Kau lihat benar
Itulah adanya mereka
Ketika hidup selama ini seakan berhenti berputar
Dan melepaskan segala beban yang menghimpit nyawa yang bertuankan si kaya
Melebur bersama emosi yang semakin pongah dan tak mampu digilas sang waktu
Detik demi waktu seakan pergi meninggalkan jejaknya padamu
Ketika senja temaram digantikan oleh malam yang gelap di ujung sana
Jangan kau pernah mengusik kisah ilahi yang tertata rapi
Rapuhnya dahan seolah kau kan mengusir ketakutan dia kan melukai ragamu
Sesungguhnya dia sudah tiba waktunya untuk berhenti berharap dan tumbuh kembali
Bumi pun akan menerima dan menenggelamkannya bersama dengan dedaunan yang kering membungkus tulang
Ketika jejak langkah terhapus oleh waktu yang berputar
Tak usah kau hiraukan dia
Biarkan dirinya berkelana sendiri dan mengumpulkan kisah sejati nyata nya yang akan menjadi catatan dalam setiap suratan takdirnya
Jangan kau pernah berkata seolah kau adalah tuan segalanya
Jalan takkan selalu rata namun engkau harus tetap melangkah

Sang pencari kehidupan

Sejuta kata terucap dari bibir
Melepaskan dahaga akan kehilangan segalanya
Ketika mentari mengusir malam kelam
Berganti dengan jingga kemilau di ufuk timur
Senantiasa dalam jangkauan hati dan jiwa yang menyatu
Semua akan menjadi kenangan
Serentak barisan sang pencari nafkah melangkah tegap kedepan
Teteskan peluh yang menyibak daging
Melawan cahaya menuju ke ujung jalan
Mencari arti hidup bersama waktu yang mengiringi langkah kaki ini
Menjejakkan langkah demi langkah mengusir ketakutan di jiwa
Akan kerasnya cerita hidup di dunia
Semuanya itu adalah lukisan nyata terpampang jelas di depan mata
Berharap awan kan melingkupi dan menyembuhkan luka raga
Seumpama ilalang hijau berubah menjadi hitam bersama kenangan yang terbakar oleh masalah
Namun hidup tetap berjalan