Kau berikan kami senyum lugumu
Kami tak apa apa
Ketika kau tertawa melambai
Kami sungguh tak apa apa
Dan ketika kau menusuk kami lewat belakang
Kami masih tertawa memujamu
Kami masih tak apa apa
Dan akhirnya kau memusnahkan raga kami lewat ceritamu
Kami tidak bisa apa apa
Tak apa apa
Jika memang kaum papa tak berontak
Tak mengapa
Jika para pencari kehidupan bergelut noda
Tak perlu apa apa untuk menghancurkan sebuah bangunan penghalang netramu
Kami tak mau apapun
Kau sesukamu
Kau bicara menggelora
Menggebu gebu bagaikan ikan kena panasnya belanga
Namun itu bukan wujudnya
Tapi kami tak pernah bisa apa apa
Kau dilindungi jubah mewahmu
Kau berdiri dibalik topengmu
Kau bercerita dibalik dindingmu
Kami tetap memujamu
Thursday, September 19, 2019
Tuesday, September 17, 2019
Lelah
Aku pernah tertawa menahan gejolak emosi didada
Pernah tersenyum walau tak sampai keujung mata
Pernah terluka seakan itu pelipur lara
Dan terjatuh kesekian kalinya
Aku lelah
Aku pernah berlari bersama senja dan cahaya disana
Pernah bahagia bersama detik detik terakhir yang kupunya
Dan aku rasakan dalam genggaman
Walau akhirnya terlepas dari tanganku
Aku lelah
Aku pernah merasa dipuja bagai dewa
Dipegang lembut bagaikan porselen licin takut pecah
Bagaikan patung mewah tersembunyi dibalik pintu dan menjadi kotor seperti seonggok sampah
Aku lelah
Aku lelah
Berlari mengejar cahaya aku tak sanggup
Menanti waktu yang kian menjauh aku lelah
Bermimpi bersama angin bertiup aku lelah
Sungguh aku tak bisa lagi
Aku lelah kini
Pernah tersenyum walau tak sampai keujung mata
Pernah terluka seakan itu pelipur lara
Dan terjatuh kesekian kalinya
Aku lelah
Aku pernah berlari bersama senja dan cahaya disana
Pernah bahagia bersama detik detik terakhir yang kupunya
Dan aku rasakan dalam genggaman
Walau akhirnya terlepas dari tanganku
Aku lelah
Aku pernah merasa dipuja bagai dewa
Dipegang lembut bagaikan porselen licin takut pecah
Bagaikan patung mewah tersembunyi dibalik pintu dan menjadi kotor seperti seonggok sampah
Aku lelah
Aku lelah
Berlari mengejar cahaya aku tak sanggup
Menanti waktu yang kian menjauh aku lelah
Bermimpi bersama angin bertiup aku lelah
Sungguh aku tak bisa lagi
Aku lelah kini
Tuesday, September 10, 2019
Seribu alasan
Adakah maknanya hidup namun dipasung sang waktu
Ataukah terlihat bahagia tapi berkejaran dengan waktu yang tak pernah menanti digaris awal
Setiap cerita yang mereka lontarkan takkan pernah kembali dan menjadi sebuah asa
Kita akan selalu merayu jiwa jiwa kehausan akan nafsu dan menusuk bagai jelatang cantik
Kita menghamba bagai si bodoh dipertuankan oleh kekuasaan tirani dan itu akan dipeluk bak permata berharga ditepi jurang sana
Bergelut dengan kata mati pun akan dipuja kini
Kita selalu bagaikan segerombolan binatang buas berbulu domba yang lembut
Tak perlu belati untuk bertahan
Lidahpun mampu membunuh raga
Ataukah terlihat bahagia tapi berkejaran dengan waktu yang tak pernah menanti digaris awal
Setiap cerita yang mereka lontarkan takkan pernah kembali dan menjadi sebuah asa
Kita akan selalu merayu jiwa jiwa kehausan akan nafsu dan menusuk bagai jelatang cantik
Kita menghamba bagai si bodoh dipertuankan oleh kekuasaan tirani dan itu akan dipeluk bak permata berharga ditepi jurang sana
Bergelut dengan kata mati pun akan dipuja kini
Kita selalu bagaikan segerombolan binatang buas berbulu domba yang lembut
Tak perlu belati untuk bertahan
Lidahpun mampu membunuh raga
Menanti cahaya
Aku pernah berlari dan terjatuh
Memeluk bumi pun ku tak mampu
Dunia tak mengizinkan daku tertawa sejenak
Apakah topengnya mulai usang dan rapuh
Dan menunjukkan bopengnya hati yang bertaburan kepalsuan
Akankah amarah nantinya melumatku bagai seonggok sampah tak berguna
Ataukah pijaran cahaya ikut membakar dan membuatku hitam membara
Aku pernah tertawa walau ternyata itu tak ikhlas
Tertawa bagai si bodoh yang siap dipasung membodohi jiwa
Berharap itu hanyalah sebuah simfoni penghantar lelapnya situbuh ringkih ketika malam tiba
Menari diantara serpihan serpihan tajamnya lidah menusuk sanubari
Tapi aku tetap menantinya
Memeluk bumi pun ku tak mampu
Dunia tak mengizinkan daku tertawa sejenak
Apakah topengnya mulai usang dan rapuh
Dan menunjukkan bopengnya hati yang bertaburan kepalsuan
Akankah amarah nantinya melumatku bagai seonggok sampah tak berguna
Ataukah pijaran cahaya ikut membakar dan membuatku hitam membara
Aku pernah tertawa walau ternyata itu tak ikhlas
Tertawa bagai si bodoh yang siap dipasung membodohi jiwa
Berharap itu hanyalah sebuah simfoni penghantar lelapnya situbuh ringkih ketika malam tiba
Menari diantara serpihan serpihan tajamnya lidah menusuk sanubari
Tapi aku tetap menantinya
Saturday, August 17, 2019
Say
Say
Hari ini penuh dengan cerita mereka yang tak pernah berujung
Penuh akan intrik yang semakin mengguning
Tak berhenti walau telah berada di titik akhir
Mereka tetap angkuh
Say
Apakah kau melihat mereka merayuku
Menyentuh ragaku seakan aku dewa yunani
Lihatlah lidah mereka terjulur menjijikkan
Aku hanya diam tanpa bisa beranjak
Mereka bagai medusa yang menghimpit dengan penuh muslihat
Lembut dan mematikan akhirnya
Mereka semakin dalam membelit
Say
Bisakah kau membawaku pergi
Lewati waktu yang serasa tak berhenti kini
Ataukah aku yang telah mati rasa sendiri
Menjauh dari mereka yang bernafsu mengoyakkan ragaku
Kau takkan percaya mereka itu jahat
Mereka indah penuh sensasi menegangkan syaraf
Dunia takluk ditangannya
Aku tak ingin mati
Say
Segeralah mendekat
Jangan berlama lama
Atau aku akan mengering merindukan oase
Aku gersang tanpa setitikpun embun melintasi
Pelangi membuatku silau akan tipuannya
Tak bisa kusentuh walau berada didepan netraku
Aku semakin lemah
Say
Bergegaslah
Aku semakin kedinginan
Aku semakin kaku
Aku tak bisa lagi merasakan ragaku
Cepatlah
Say
Hari ini penuh dengan cerita mereka yang tak pernah berujung
Penuh akan intrik yang semakin mengguning
Tak berhenti walau telah berada di titik akhir
Mereka tetap angkuh
Say
Apakah kau melihat mereka merayuku
Menyentuh ragaku seakan aku dewa yunani
Lihatlah lidah mereka terjulur menjijikkan
Aku hanya diam tanpa bisa beranjak
Mereka bagai medusa yang menghimpit dengan penuh muslihat
Lembut dan mematikan akhirnya
Mereka semakin dalam membelit
Say
Bisakah kau membawaku pergi
Lewati waktu yang serasa tak berhenti kini
Ataukah aku yang telah mati rasa sendiri
Menjauh dari mereka yang bernafsu mengoyakkan ragaku
Kau takkan percaya mereka itu jahat
Mereka indah penuh sensasi menegangkan syaraf
Dunia takluk ditangannya
Aku tak ingin mati
Say
Segeralah mendekat
Jangan berlama lama
Atau aku akan mengering merindukan oase
Aku gersang tanpa setitikpun embun melintasi
Pelangi membuatku silau akan tipuannya
Tak bisa kusentuh walau berada didepan netraku
Aku semakin lemah
Say
Bergegaslah
Aku semakin kedinginan
Aku semakin kaku
Aku tak bisa lagi merasakan ragaku
Cepatlah
Say
Tuesday, August 13, 2019
Sang pemimpi
Pernah kau kau menangis ketika kau tertawa
Ataukah menangis dikala senja temaram mendekat
Ketika angin merayumu dengan lembut namun tak bisa kau genggam
Ataukah cahaya diatas sana yang tersenyum tapi tidak padamu pernahkah
Apakah kau bisa merasakan setiap kisah yang terjadi namun tak bisa kau genggam di hatimu ataupun mimpi sekalipun menghindar darimu
Ataukah mereka hanya berlari melintasi namun tak singgah dihadapanmu kini
Sumpama waktu yang katanya setia padamu ternyata meninggalkanmu dikala gelap tiba
Pernahkah
Siapakah mereka yang kau sebut teman
Siapakah mereka yang memanggilmu saudara
Ataukah mereka keluarga tak bernamamu
Hadir disaat detik terakhirmu memeluk asa
Apakah itu yang kau sebut cinta?
Kapan aku dan kau menjadi kita yang bergandengan melawan hari
Sejak kapan bintang kau sebut bersahabat dengan rembulan
Ataukah air melindungi api yang berpijar
Samakah mereka seperti awan dan mentari disana?
Sepanjang hari yang semakin tua dan membungkuk
Tak mampu lagi membelai dan menggodamu
Dia meremukkan tulangmu dan membuatmu terlelap dalam pergumulanmu seorang disana
Hancur tak bersisa jika kau tetap bertahan
Apakah itu mimpimu yang kau ukir selama ini diatas harapan??
Ataukah kau berkisah kau adalah korban dunia
Dan meraung seolah kau pemenang sidang hakim yang akan bertelut padamu nantinya?
Apakah itu khayalanmu?
Ataukah menangis dikala senja temaram mendekat
Ketika angin merayumu dengan lembut namun tak bisa kau genggam
Ataukah cahaya diatas sana yang tersenyum tapi tidak padamu pernahkah
Apakah kau bisa merasakan setiap kisah yang terjadi namun tak bisa kau genggam di hatimu ataupun mimpi sekalipun menghindar darimu
Ataukah mereka hanya berlari melintasi namun tak singgah dihadapanmu kini
Sumpama waktu yang katanya setia padamu ternyata meninggalkanmu dikala gelap tiba
Pernahkah
Siapakah mereka yang kau sebut teman
Siapakah mereka yang memanggilmu saudara
Ataukah mereka keluarga tak bernamamu
Hadir disaat detik terakhirmu memeluk asa
Apakah itu yang kau sebut cinta?
Kapan aku dan kau menjadi kita yang bergandengan melawan hari
Sejak kapan bintang kau sebut bersahabat dengan rembulan
Ataukah air melindungi api yang berpijar
Samakah mereka seperti awan dan mentari disana?
Sepanjang hari yang semakin tua dan membungkuk
Tak mampu lagi membelai dan menggodamu
Dia meremukkan tulangmu dan membuatmu terlelap dalam pergumulanmu seorang disana
Hancur tak bersisa jika kau tetap bertahan
Apakah itu mimpimu yang kau ukir selama ini diatas harapan??
Ataukah kau berkisah kau adalah korban dunia
Dan meraung seolah kau pemenang sidang hakim yang akan bertelut padamu nantinya?
Apakah itu khayalanmu?
Sunday, August 11, 2019
Sebatas rindu
Ketika kutanya bintang kenapa dia bersedih
Ternyata rembulan berkhianat padanya
Ketika kutanya rembulan kenapa dia bersedih
Katanya mega jahat padanya
Apakah salah awan ataukah mentari yang egois berpindah haluan
Mereka tak menjawab
Sudahlah
Ketika aku bertanya pada pohon kenapa dia bersedih
Jawabnya dia kehausan akan air mengalir
Mengapa air tak mengalir katanya awan tak mau mendekat lagi
Hanya sebatas memberi harapan palsu
Angin sepoi sepoi tidak membuatnya lega tapi semakin mencekam
Aku bertanya lagi pada air kenapa dia tak mengalirkan berkatnya
Dia bersenda gurau dan menyalahkan matahari yang terlalu panas
Apakah matahari adalah jahat
Aku tak tahu
Sudahlah
Kenapa pohon bersedih
Mengapa air tak lagi segar
Mengapa angin tak lagi lembut
Apakah itu hanya sebuah kisah penutup malam?
Mengapa bulan tak lagi cerah
Mengapa bintang semakin suram
Mengapa matahari semakin jahat
Apakah mereka berdusta pada mahkluk di jagad raya?
Akh sudahlah
Mereka tidak menyalahkan makhluk lainnya
Mereka tak mencari kesalahan
Hanya rindu kepada kehidupan sebelumnya
Tak tahu kapan akan kembali segar
Apakah reinkarnasi menjawab ataukah tinggal sebuah nama
Aku pun tak tahu
Ahh sudahlah
Ternyata rembulan berkhianat padanya
Ketika kutanya rembulan kenapa dia bersedih
Katanya mega jahat padanya
Apakah salah awan ataukah mentari yang egois berpindah haluan
Mereka tak menjawab
Sudahlah
Ketika aku bertanya pada pohon kenapa dia bersedih
Jawabnya dia kehausan akan air mengalir
Mengapa air tak mengalir katanya awan tak mau mendekat lagi
Hanya sebatas memberi harapan palsu
Angin sepoi sepoi tidak membuatnya lega tapi semakin mencekam
Aku bertanya lagi pada air kenapa dia tak mengalirkan berkatnya
Dia bersenda gurau dan menyalahkan matahari yang terlalu panas
Apakah matahari adalah jahat
Aku tak tahu
Sudahlah
Kenapa pohon bersedih
Mengapa air tak lagi segar
Mengapa angin tak lagi lembut
Apakah itu hanya sebuah kisah penutup malam?
Mengapa bulan tak lagi cerah
Mengapa bintang semakin suram
Mengapa matahari semakin jahat
Apakah mereka berdusta pada mahkluk di jagad raya?
Akh sudahlah
Mereka tidak menyalahkan makhluk lainnya
Mereka tak mencari kesalahan
Hanya rindu kepada kehidupan sebelumnya
Tak tahu kapan akan kembali segar
Apakah reinkarnasi menjawab ataukah tinggal sebuah nama
Aku pun tak tahu
Ahh sudahlah
Subscribe to:
Posts (Atom)