Say
Hari ini penuh dengan cerita mereka yang tak pernah berujung
Penuh akan intrik yang semakin mengguning
Tak berhenti walau telah berada di titik akhir
Mereka tetap angkuh
Say
Apakah kau melihat mereka merayuku
Menyentuh ragaku seakan aku dewa yunani
Lihatlah lidah mereka terjulur menjijikkan
Aku hanya diam tanpa bisa beranjak
Mereka bagai medusa yang menghimpit dengan penuh muslihat
Lembut dan mematikan akhirnya
Mereka semakin dalam membelit
Say
Bisakah kau membawaku pergi
Lewati waktu yang serasa tak berhenti kini
Ataukah aku yang telah mati rasa sendiri
Menjauh dari mereka yang bernafsu mengoyakkan ragaku
Kau takkan percaya mereka itu jahat
Mereka indah penuh sensasi menegangkan syaraf
Dunia takluk ditangannya
Aku tak ingin mati
Say
Segeralah mendekat
Jangan berlama lama
Atau aku akan mengering merindukan oase
Aku gersang tanpa setitikpun embun melintasi
Pelangi membuatku silau akan tipuannya
Tak bisa kusentuh walau berada didepan netraku
Aku semakin lemah
Say
Bergegaslah
Aku semakin kedinginan
Aku semakin kaku
Aku tak bisa lagi merasakan ragaku
Cepatlah
Say
Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts
Saturday, August 17, 2019
Friday, July 19, 2019
Katanya
Katanya kau akan kaya pabila kau bahagia
Katanya kau kan hebat jika engkau mencoba
Katanya kau bisa menang jika kau datangi
Katanya kau bisa mati jika penasaran melanda
Katanya semua itu hanyalah sebuah simfoni
Katanya apapun itu hanyalah mimpi
Katanya semuanya sebuah cerita usang
Katanya kita tak layak bahagia
Katanya dunia bukan halaman ku
Katanya kau dan aku penumpang gelap tak bermoralkan hati
Katanya siapapun tertawa ketika dipuji sang penjaga raga
Katanya itu semua akan datang disaat kau terlelap
Katanya coba saja sebelum semua musnah tak bertuan
Katanya kau mati akan tertawa
Katanya bahagiamu itu punya semua jiwa
Katanya
Katanya
Katanya
Dan apakah katanya kita layak hidup?
Apakah katanya bahagia itu punya kita tanpa syarat?
Apakah katanya orang mati akan mengubur dirinya sendiri??
Apakah katanya dunia musnah karena dua tangan mungil itu?
Apakah katanya merdeka adalah hak setiap nyawa?
Apakah
Apakah
Apakah semuanya akan berakhir dan menjadi seperti sedia kala?
Katanya kau kan hebat jika engkau mencoba
Katanya kau bisa menang jika kau datangi
Katanya kau bisa mati jika penasaran melanda
Katanya semua itu hanyalah sebuah simfoni
Katanya apapun itu hanyalah mimpi
Katanya semuanya sebuah cerita usang
Katanya kita tak layak bahagia
Katanya dunia bukan halaman ku
Katanya kau dan aku penumpang gelap tak bermoralkan hati
Katanya siapapun tertawa ketika dipuji sang penjaga raga
Katanya itu semua akan datang disaat kau terlelap
Katanya coba saja sebelum semua musnah tak bertuan
Katanya kau mati akan tertawa
Katanya bahagiamu itu punya semua jiwa
Katanya
Katanya
Katanya
Dan apakah katanya kita layak hidup?
Apakah katanya bahagia itu punya kita tanpa syarat?
Apakah katanya orang mati akan mengubur dirinya sendiri??
Apakah katanya dunia musnah karena dua tangan mungil itu?
Apakah katanya merdeka adalah hak setiap nyawa?
Apakah
Apakah
Apakah semuanya akan berakhir dan menjadi seperti sedia kala?
Wednesday, July 17, 2019
Simfoni kehidupan
Rasanya aku akan tertawa
Menghina dan mencela
Karena lidahku gatal untuk tak berucap kasar
Akhh tak puas aku
Ingin juga ku lampiaskan dendam bagaikan pijaran lava
Panas dan membara
Merah dan membakar raga
Aku sudah tak tahan
Dimana aku akan memulainya nanti
Apakah langsung ke pusatnya ataukah menyiksa perlahan namun penuh emosi
Ataukah aku berpura pura manis lalu menusuknya lembut dibelakang
Entahlah aku pun bingung
Aku pun tak cepat bertindak
Akalku seakan hilang ditarik waktu
Normal pun seperti sebuah pertanyaan apakah itu fakta
Aku hanya mengintip ternyata
Ohh dunia aku duduk dipesakitan tapi kau hanya mencela
Aku tertawa kau jawab gila
Aku menangis kau bilang gila
Aku gila kau sahut benar
Sudahkah itu takdirku nanti
Akupun bingung
Menghina dan mencela
Karena lidahku gatal untuk tak berucap kasar
Akhh tak puas aku
Ingin juga ku lampiaskan dendam bagaikan pijaran lava
Panas dan membara
Merah dan membakar raga
Aku sudah tak tahan
Dimana aku akan memulainya nanti
Apakah langsung ke pusatnya ataukah menyiksa perlahan namun penuh emosi
Ataukah aku berpura pura manis lalu menusuknya lembut dibelakang
Entahlah aku pun bingung
Aku pun tak cepat bertindak
Akalku seakan hilang ditarik waktu
Normal pun seperti sebuah pertanyaan apakah itu fakta
Aku hanya mengintip ternyata
Ohh dunia aku duduk dipesakitan tapi kau hanya mencela
Aku tertawa kau jawab gila
Aku menangis kau bilang gila
Aku gila kau sahut benar
Sudahkah itu takdirku nanti
Akupun bingung
Thursday, January 31, 2019
Emosi jiwa
Aku dalam diamku
Aku dalam sedihku
Aku dalam nadaku
Bergemuruh meliuk-liuk menantang gelora
Prahara menerjang pun aku tak rapuh
Hanyalah emosi menguasai hati
Takkan usai kisahku dihempas badai
Geloranya kian merusak jiwa tapi aku kokoh
Aku dalam heningku
Ikatan ini akan menjadi satu jalinan setia
Tetap ku bersama walau ragaku lepas dari takdirku
Aku hanyalah mimpi
Namun aku penguasa hati
Dan takkan usai hingga kini
Aku dalam malamku
Aku dalam sedihku
Aku dalam nadaku
Bergemuruh meliuk-liuk menantang gelora
Prahara menerjang pun aku tak rapuh
Hanyalah emosi menguasai hati
Takkan usai kisahku dihempas badai
Geloranya kian merusak jiwa tapi aku kokoh
Aku dalam heningku
Ikatan ini akan menjadi satu jalinan setia
Tetap ku bersama walau ragaku lepas dari takdirku
Aku hanyalah mimpi
Namun aku penguasa hati
Dan takkan usai hingga kini
Aku dalam malamku
Subscribe to:
Posts (Atom)