Tuesday, August 13, 2019

Sang pemimpi

Pernah kau kau menangis ketika kau tertawa
Ataukah menangis dikala senja temaram mendekat
Ketika angin merayumu dengan lembut namun tak bisa kau genggam
Ataukah cahaya diatas sana yang tersenyum tapi tidak padamu pernahkah

Apakah kau bisa merasakan setiap kisah yang terjadi namun tak bisa kau genggam di hatimu ataupun mimpi sekalipun menghindar darimu
Ataukah mereka hanya berlari melintasi namun tak singgah dihadapanmu kini
Sumpama waktu yang katanya setia padamu ternyata meninggalkanmu dikala gelap tiba
Pernahkah

Siapakah mereka yang kau sebut teman
Siapakah mereka yang memanggilmu saudara
Ataukah mereka keluarga tak bernamamu
Hadir disaat detik terakhirmu memeluk asa
Apakah itu yang kau sebut cinta?

Kapan aku dan kau menjadi kita yang bergandengan melawan hari
Sejak kapan bintang kau sebut bersahabat dengan rembulan
Ataukah air melindungi api yang berpijar
Samakah mereka seperti awan dan mentari disana?
Sepanjang hari yang semakin tua dan membungkuk
Tak mampu lagi membelai dan menggodamu
Dia meremukkan tulangmu dan membuatmu terlelap dalam pergumulanmu seorang disana
Hancur tak bersisa jika kau tetap bertahan
Apakah itu mimpimu yang kau ukir selama ini diatas harapan??
Ataukah kau berkisah kau adalah korban dunia
Dan meraung seolah kau pemenang sidang hakim yang akan bertelut padamu nantinya?
Apakah itu khayalanmu?

Sunday, August 11, 2019

Sebatas rindu

Ketika kutanya bintang kenapa dia bersedih
Ternyata rembulan berkhianat padanya
Ketika kutanya rembulan kenapa dia bersedih
Katanya mega jahat padanya
Apakah salah awan ataukah mentari yang egois berpindah haluan
Mereka tak menjawab
Sudahlah

Ketika aku bertanya pada pohon kenapa dia bersedih
Jawabnya dia kehausan akan air mengalir
Mengapa air tak mengalir katanya awan tak mau mendekat lagi
Hanya sebatas memberi harapan palsu
Angin sepoi sepoi tidak membuatnya lega tapi semakin mencekam
Aku bertanya lagi pada air kenapa dia tak mengalirkan berkatnya
Dia bersenda gurau dan menyalahkan matahari yang terlalu panas
Apakah matahari adalah jahat
Aku tak tahu
Sudahlah

Kenapa pohon bersedih
Mengapa air tak lagi segar
Mengapa angin tak lagi lembut
Apakah itu hanya sebuah kisah penutup malam?

Mengapa bulan tak lagi cerah
Mengapa bintang semakin suram
Mengapa matahari semakin jahat
Apakah mereka berdusta pada mahkluk di jagad raya?

Akh sudahlah

Mereka tidak menyalahkan makhluk lainnya
Mereka tak mencari kesalahan
Hanya rindu kepada kehidupan sebelumnya
Tak tahu kapan akan kembali segar
Apakah reinkarnasi menjawab ataukah tinggal sebuah nama
Aku pun tak tahu
Ahh sudahlah

Wednesday, July 31, 2019

Simfoni pilu

Pernahkah kau melukis pelangi dikala awan sedang gelap dan gersang
Apakah kau mewarnainya dengan kuat seperti tuba dan pekat bagai tinta
Ataukah pelangi memudar karena warnanya disapu oleh hujan yang berlari menjauh ke ujung sana
Akhh biarlah itu menjadi rahasiaNya

Katanya bunga mekar karena penuh cinta dan kasih yang mesra
Biarkan dia berkembang mengikuti mentari dan layu kemudian
Tapi kenapa mereka membunuhnya dan memasukkan kedalam kubangan-kubangan jahat dan membuat sang kembang tak bisa bernafas lembut
Katanya mereka suka aroma semerbak tapi mengapa mereka memberi aroma palsu dan mematahkan harapan yang akan menjadi buah nantinya

Katanya danau itu indah di senja hari dikala sang mentari mendekat
Pijarkan lembayung yang selembut sutra dipenghujung waktu
Pantulkan warna temaram pelembut hati yang gundah gulana
Tapi lihatlah teliti
Banyak borok borok mewah didalamnya
Ada jejak nyata membuat warnanya menjadi gelap
Dikala sang manusia membawa sisa dirinya dan tak merasa berdosa
Mengalir ke ujung hutan dan menghancurkan semuanya
Bagaikan bom waktu yang perlahan mendekat dan sakit

Friday, July 19, 2019

Katanya

Katanya kau akan kaya pabila kau bahagia
Katanya kau kan hebat jika engkau mencoba
Katanya kau bisa menang jika kau datangi
Katanya kau bisa mati jika penasaran melanda
Katanya semua itu hanyalah sebuah simfoni
Katanya apapun itu hanyalah mimpi
Katanya semuanya sebuah cerita usang
Katanya kita tak layak bahagia
Katanya dunia bukan halaman ku
Katanya kau dan aku penumpang gelap tak bermoralkan hati
Katanya siapapun tertawa ketika dipuji sang penjaga raga
Katanya itu semua akan datang disaat kau terlelap
Katanya coba saja sebelum semua musnah tak bertuan
Katanya kau mati akan tertawa
Katanya bahagiamu itu punya semua jiwa
Katanya
Katanya
Katanya
Dan apakah katanya kita layak hidup?
Apakah katanya bahagia itu punya kita tanpa syarat?
Apakah katanya orang mati akan mengubur dirinya sendiri??
Apakah katanya dunia musnah karena dua tangan mungil itu?
Apakah katanya merdeka adalah hak setiap nyawa?
Apakah
Apakah
Apakah semuanya akan berakhir dan menjadi seperti sedia kala?

Wednesday, July 17, 2019

Simfoni kehidupan

Rasanya aku akan tertawa
Menghina dan mencela
Karena lidahku gatal untuk tak berucap kasar
Akhh tak puas aku
Ingin juga ku lampiaskan dendam bagaikan pijaran lava
Panas dan membara
Merah dan membakar raga
Aku sudah tak tahan

Dimana aku akan memulainya nanti
Apakah langsung ke pusatnya ataukah menyiksa perlahan namun penuh emosi
Ataukah aku berpura pura manis lalu menusuknya lembut dibelakang
Entahlah aku pun bingung
Aku pun tak cepat bertindak

Akalku seakan hilang ditarik waktu
Normal pun seperti sebuah pertanyaan apakah itu fakta
Aku hanya mengintip ternyata
Ohh dunia aku duduk dipesakitan tapi kau hanya mencela
Aku tertawa kau jawab gila
Aku menangis kau bilang gila
Aku gila kau sahut benar
Sudahkah itu takdirku nanti
Akupun bingung

Wednesday, May 8, 2019

Lelahku

Bilakah mentari berhenti membakarku
Biarkan awan melingkupi dan jangan kau hentikan
Aku tak kuat lagi bersama hitam
Bagaikan sebuah suratan takdir kurasa
Dan aku tetap diam
Aku tak ingin
Bisakah nantinya aku menanti putih tiba dengan selamat
Berharap menemani dalam setiap kisah yang akan terujar
Jangan lepaskan dan jangan tinggalkan
Aku selalu memohon dan lagi

Saturday, March 2, 2019

Seuntai nada

Maafkan aku buat kisah kemarin
Berikan ampunan pada setiap raga yang berseru
Aku lelah dan gersang kini
Ku telah menghapus warna dengan kejam
Dan menorehnya dengan hitam yang kelam
Ku tepis putih dengan egoku dan semuanya hancur
Aku tetap bersembunyi dibalik topeng yang sudah usang
Namun ego memaksaku untuk bertahan seolah aku tidak mengapa
Aku tak tahu apapun

Aku hanya ingin berkata sejenak
Melepaskan himpitan aral yang kian menjadi jadi
Semakin aku berontak semakin aku terjerat
Durinya menusuk hingga ke kalbu dan semakin perih
Aku lemah dan hampa
Tapi ego memaksa untul tetap berdiri menahan badai
Yang kian menghempas jauh kedaratan ditengah kegersangan jiwa jiwa
Nirwana pun kini sudah tak terlihat oleh netra lagi
Aku tak tahu apapun

Bilamana aku tak menyapa lagi
Maafkan aku
Biarlah ombak yang memberitahu siapaa aku pada dunia
Jangan kau paksa dia bercerita jangan
Hening takkan kau temukan disaat badai bergelora sedang para insan akan lari menghadangnya
Membatasi jiwa dengan dunia fana seolah harapan takkan mati hingga nanti
Aku tak tahu apapun