Thursday, January 31, 2019

Emosi jiwa

Aku dalam diamku
Aku dalam sedihku
Aku dalam nadaku
Bergemuruh meliuk-liuk menantang gelora
Prahara menerjang pun aku tak rapuh
Hanyalah emosi menguasai hati
Takkan usai kisahku dihempas badai
Geloranya kian merusak jiwa tapi aku kokoh
Aku dalam heningku
Ikatan ini akan menjadi satu jalinan setia
Tetap ku bersama walau ragaku lepas dari takdirku
Aku hanyalah mimpi
Namun aku penguasa hati
Dan takkan usai hingga kini
Aku dalam malamku

Tuesday, January 29, 2019

Diam

Bilakah semua cerita terulang kembali
Seperti kemarin saat kau pergi dan datang lagi
Aku pikir kau membawa banyu pelepas dahagaku
Ternyata air mata yang kau janjikan padaku
Aku tak mengapa itu suaraku
Tapi bathinku tak pernah setuju aku diam
Seolah telingaku pun ikut tuli dan berpura pura
Akupun tak bersuara tak berirama
Dan aku hanya sekumpulan kata yang bermakna kotor dan membuatmu menjauh dan menjaga jarak
Aku tahu itu dan diam
Aku tahu semuanya akan seperti itu namun aku diam
Ikhlasku tak terbalaskan oleh ucapan aku juga diam
Tak berakal budi diriku disebutnya dan aku diam


Wednesday, October 10, 2018

Hampa

Adakah terlihat ujung kisah itu berakhir?
Berhenti berdetak walau hanya sejenak dan terlelap
Ataukah hampa dan gamang yang dirasa oleh hati
Tak bisa digapai oleh mata namun terasa menyengat dirasuki oleh jiwa
Apakah aku tak layak bahagia wahai engkau pemilik tahta itu?
Berlomba lomba setiap makhluk mengejar matahari disana
Berharap bias sinarnya menerpa dan beri kekuatan
Aku bisa apa?

Friday, September 28, 2018

Sinar

Cahaya gemerlap janganlah kau padam
Biarkan cerita ikut bersamamu dan berkisah
Lambaikan harapan dan lantangkan impianmu
Kita berhak bermimpi
Cahaya terang tetaplah benderang
Jangan menyerah sinari rupa dunia
Tulus ikhlasmu jangan kau henti
Biarkan semua jadi sempurna bersama malam kelam
Bintang disana pun akan ikut tertawa padamu jangan kau ragu itu
Cahaya terang apakah mendengarku
Aku hanya ingin menyampaikan prahara didalam dada yang kian bergejolak
Janganlah menghindariku
Biarkan cahayamu bersinar walau terik menghalau dan aku rindu
Semerbak aroma basah menusuk indra ku dan kuhirup dengan sempurna
Cahayaku pemilik sejengkal hidupku

Friday, August 3, 2018

Dukaku

Sejumput rindu ku genggam dalam tanganku
Erat takkan pernah kulepaskan walau hanya sejenak
Ku rentangkan segalanya ke angkasa dan menari lembut bersama dedaunan yang ikut bersenandung kini
Aku takkan bersedih kata awan putih
Ketika rasa itu menjelma duka berselimutkan aral
Menghancurkan semuanya yang sempurna
Aku tak bisa apapun selain terpaku dan terdiam di balik topeng palsu ini
Apakah aku tak layak bahagia kata batinku pada pemilik semesta
Dan serentak dewa langit tertawa bergemuruh mengejekku
Menghardik dengan suaranya yang menggema membelah bumi dan aku tetap diam disini
Aku tak bisa apapun selain menutup mata ini

Thursday, July 26, 2018

Hampa

Laraku kian mendekat kini
Bernaung bersama di dalam pelindung jiwaku
Awan putih yang kulihat kini berubah kelam
Halilintar pun membentakku dengan pongahnya
Dan aku hanya bisa diam terkejut dan menunduk
Aku terlena oleh pelangi disana
Aku dibuai bayu yang melintas di hadapku
Aku terpekur oleh alunan nada penuh kepalsuan
Aku tak bisa apapun

Semesta pun seakan ikut menghujat dan menilai siapa aku
Dihelanya aku dari lingkaran cerita setiap insan yang bernafaskan kehidupan
Tersingkir oleh egois merajai dunia
Tapi aku tak bisa melawan
Aku bukan hamba tapi tak juga merdeka
Bukan pengembara tak jua khalifah
aku tak bisa apa apa
Aku jauh kini

Friday, July 20, 2018

Jingga

Semburat indah terpahat indah di ujung sana
Indahnya tak abadi namun senantiasa setiap hari
Kedamaian berteman dengannya tanpa apapun
Semurni hujan yang berlarian menuju ke bumi
Menetes perlahan dan semakin deras ketika di harapkan
Jinggaku tak kunjung beranjak
Jingga permataku
Jingga keemasanku di atas sana
Jingga berpadu putih nan suci
Erat nian menari di hela sang bayu namun tak padam oleh amarah
Dia tenang namun tak lemah
Aku rindu jinggaku