Monday, January 13, 2014

engkau tak begitu

aku tetap akan disini walau aku mati
karena aku tak ingin berlari lagi
dan menghilang ditelan waktu begitu saja
akan kuhadapi dengan segenap cintaku yang membara dihatiku
karena kutahu engkau tak begitu padaku

jangan kau panah aku dengan api amarahmu
jangan kau bunuh aku dengan pedang cintamu
jangan kau akhiri semua dengan kepedihan hati
karena kutahu engkau tak begitu

biarkan cerita kita berakhir bahagia sayang
bahagia bersama seiring waktu yang akan memisahkan kita
karena kita akan musnah jua akhirnya ditelan bumi


pusara cinta

bernama sesuatu
diantara bayang-bayang kelabu yang semakin temaram
berarak seperti awan yang berlarian kesana kemari
menghujam jauh kedasar hati yang terdalam
semua musnah...
 bersama malam yang ingin bercerita tentang pedihnya yang tak kunjung usai dimakan waktu
pilu hatinya mendamba sang kekasih tak pernah datang kemimpi yang semakin gelap
setiap waktu hanya menanti dan menanti tak pernah berhenti mengharap
walau ternyata........
semua hanyalah ilusi yang tak terbiaskan cahaya putih
semua palsu

dan kini hanya meratap kekasih yang tiada entah kemana
sendiri terhenyak di penghujung senja
bersama dengan sang waktu yang bermain disampingku
mendengarkan nyanyian pilu riak-riak air yang ikut bersedih
aku tertanam bersama cerita cintaku yang tak pernah berakhir

Saturday, January 4, 2014

pasrah

barisan doa yang kulantunkan lewat hati kecilku
menghantarkan segenap rasa yang berbaur menjadi satu didalam kalbu
mengheningkan raga yang terlena dan terlelap di buaian sepi
menyatukan segala hasrat yang terendap dalam lara
semua hening
menyatu
tenang tak terbatas waktu sedetikpun tak tersesakkan menit detik yang menghampiri
indah bagaikan fatamorgana diatas prahara bersatu
bagaikan alunan lagu yang menggetarkan jiwa
berontak diantara hati yang ingin bebas
namun apa dayaku kini

semangat merahku

tersenyumlah merahku jiwa ragaku bersama iringan sang bayu yang berkelana
menghantarkan sejuta rasa yang tak terukir di dinding alam
membara bagaikan sinar kejora yang tak kunjung padam
memancar indah sempurna di haribaan bumi sentosa
tiada tara alunan nadaku

embun pagi membasahi ronaku berjuang diantara geliat raga tertatih
tak ingin rasanya daku disini saja
aku ingin bebas dan menghentakkan sayap kecilku
dan membumbung tinggi ke angkasa dan tak kembali lagi
tak kembali tuk mengenang semua kepahitan yang tertinggal
karena aku bukan bayang-bayang semu

Monday, December 23, 2013

syukur

ucapkan selamat malam pada jingga yang menghantarkan jejak langkahmu
biarlah lewat terpaan dan bias cahyanya kan memberimu kelegaan tiada tara
menghapuskan segala sesah yang boleh menghampiri setiap amarah yang mekar bagaikan bunga bakung
menghentak hentak langkahkanlah kedua kakimu mengikut arah kemana dia berlalu
tiada hentinya bersenandung kesepian yang tiada pernah putus-putusnya kau lagukan

berserilah wahai rembulan yang kan menemaniku nanti
diantara tarian sang bintang yang mengitari ragaku ditengah kerlap-kerlipnya
walau kecil tak kan pudar dibiaskan sang kelam
hanyalah bertemankan kebahagiaan sajalah diriku nanti disini
takkan ada kelabu yang menghampiriku hanyalah seperti mimpi buruk yang berlalu bagaikan prahara
ku bahagia sajalah untuk sesaat yang kurasakan sekarang ini

Saturday, December 21, 2013

catatan kecilku

embun kepagian menembus ragaku menghantarkan semerbak aroma basah
melilit bagaikan seorang putri malu yang menggigil menghiba
menerpa belukar yang menghimpit dan membuatku tak berdaya
sesaat kumenengadah ke langit yang bertaburkan awan-awan putih yang berarak kian kesana kemari
berlarian tiada hentinya dan tak pernah berharap kan selesai sejenak
walau harus menghancurkan semua impian yang dituliskan
hanyalah sepi yang kan ada dan selalu ada tertata rapi disana
tidak tahu sampai kapan kan terbuka dari sudut kesepian yang menghimpit

Saturday, December 14, 2013

lemah

bakarlah daku wahai mentari di atas
biarkan apimu memusnahkan segala titik nadiku
menghapus  semua bentuk dan rupaku kini
karena ku tak tahu bagaimana
mengisyaratkan akan sebuah kebahagiaan jiwa yang lara
bertumpu pada jalan yang gelap
diantara batas-batas alam yang melingkupi segala cerita sehari yang tiada usai
hanya membuat sebuah prahara yang bergerak cepat di dadaku
ingin berlari secepat kilat di angkasa tapi ternyata tak sadar daku jika aku hanyalah secuil kapas putih metah
mengharap awan kan menyembunyikanku dibalik kabut tebalnya
dan senantiasa tiada kecemasan lagi